Showing posts with label Kisah Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Kisah Motivasi. Show all posts

Friday, May 4, 2012

[54] Bagaimana Membangun Komitmen Diri

Setiap orang tentu punya takdirnya sendiri, pun bagaimana cara seseorang menghadapi takdirnya-segala sesuatu yang ada di hidupnya-pasti berbeda dengan orang lain. Namun satu hal yang mungkin kita sepakat adalah bahwa untuk mencapai sukses dalam menjalani takdir dan meraih apa yang kita harapkan diperlukan komitmen. Teorinya begitu. Tentu saja tidak terlepas dari kekuasaan atau kehendak Allah. Jika secara teori sudah kita kerjakan dengan benar namun hasilnya tidak sukses/tidak sesuai harapan, maka itu artinya Alloh sedang mempersiapkan rencana lain yang lebih indah untuk kita. Berbicara komitmen berarti berbicara tentang bagaimana kita menjalankan apa yang menjadi janji kita secara konsisten. Janji itu bisa ditujukan buat diri sendiri, keluarga, perusahaan, Allah, dan sebagainya, yang akhirnya membentuk komitmen terhadap diri sendiri, komitmen terhadap keluarga, komitmen terhadap perusahaan, komitmen terhadap Allah, dst.
Pertanyaannya, bagaimana cara untuk membangun dan menjaga komitmen diri, yang merupakan kunci terjaganya komitmen-komitmen yang lain?

Thursday, February 16, 2012

[50] Subhanallah..Usia 82 Tahun Hafal Al Qur'an

RUBRIK KELUARGA pada Majalah Ad-Dakwah selalu menghadirkan kepada para pembacanya kisah-kisah yanq penuh keteladanan dan juga berbagai informasi yang menyejukkan hati.
Berikut ini adalah salah satu pengalaman nyata yang dimuat dalam majalah tersebut.  Mari kita simak bersama!
Ummu Shalih. 82 tahun, mulai menghafal Al-Qur’an pada usianya yang ke-70. Tamasyanya ke taman hafalan Al-Qur’an, sungguh sangat menginspirasi. Cita-citanya yang tinggi, kesabaran, dan juga pengorbanannya patut kita teladani.
Inilah hasil wawancara dengan Ummu Shalih.
Motivasi apa yang mendorong Anda untuk menghafalkan Al-Qur’an pada umur yang setua ini?
Sebenarnya, cita-cita saya untuk menghafal Al-Qur’an sudah tumbuh sejak kecil. Kala itu ayah selalu mendoakanku agar menjadj hafizhah Al-Qur’an seperti beliau dan juga seperti kakak laki-lakiku. Dari hal itulah, aku mampu menghafal beberapa surat —kira-kira 3 juz.
Ketika usiaku menginjak 13 tahun, aku menikah. Tentu setelah itu aku tersibukkan dengan urusan rumah dan anak-anakku. Ketika aku dikaruniai 7 (tujuh) orang anak, suamiku wafat.   Karena ketujuh buah hatiku masih kecil-kecil, maka seluruh waktuku tersita untuk mengurusi dan mendidik mereka.
Nah, ketika mereka sudah dewasa dan berkeluarga, maka waktu ku pun kembali luang. Dan hal yang pertama kali aku tunaikan adalah mencurahkan tenaga dan waktuku untuk mewujudkan cita-cita agungku yang tertunda untuk menghafal Kitabullah Azza wa Jalla.
Bagaimana awal perjalanan Anda dalam menghafal?
Aku mulai menghafal kembali ketika putri bungsuku masih duduk di bangku Tsanawiyah (SMP).  Dia salah satu putriku yang paling dekat denganku, dan dia sangat mencintaiku.  Sebab kakak-kakak perempuannya telah menikah dan disibukkan dengan kehidupan baru mereka.  Sedangkan, dia (putri bungsuku) tinggal bersamaku. Dia sangat santun, jujur, dan mencintai kebaikan.
Putri bungsuku pun bercita-cita untuk menghafal Al-Qur’an—terlebih ketika ustadzahnya menyemangati dirinya. Dari sinilah, saya dan juga putri bungsuku menghafal Al-Qur’an, setiap hari 10 ayat.

[49] Kisah Inspiratif dari Tukang Becak Yang Luar Biasa!!!

BAI FANG LI adalah seorang tukang becak. Seluruh hidupnya dihabiskankan di atas sadel becaknya, mengayuh dan mengayuh untuk memberi jasanya kepada orang yang naik becaknya. Mengantarkan kemana saja pelanggannya menginginkannya, dengan imbalan uang sekedarnya.


Tubuhnya tidaklah perkasa. Perawakannya malah tergolong kecil untuk ukuran becaknya atau orang-orang yang menggunakan jasanya. Tetapi semangatnya luar biasa untuk bekerja. Mulai jam enam pagi setelah melakukan rutinitasnya untuk bersekutu dengan Tuhan. Dia melalang dijalanan, di atas becaknya untuk mengantar para pelanggannya. Dan ia akan mengakhiri kerja kerasnya setelah jam delapan malam.

Para pelanggannya sangat menyukai Bai Fang Li, karena ia pribadi yang ramah dan senyum tak pernah lekang dari wajahnya. Dan ia tak pernah mematok berapa orang harus membayar jasanya. Namun karena kebaikan hatinya itu, banyak orang yang menggunakan jasanya membayar lebih. Mungkin karena tidak tega, melihat bagaimana tubuh yang kecil malah tergolong ringkih itu dengan nafas yang ngos-ngosan (apalagi kalau jalanan mulai menanjak) dan keringat bercucuran berusaha mengayuh becak tuanya.

Bai Fang Li tinggal disebuah gubuk reot yang nyaris sudah mau rubuh, di daerah yang tergolong kumuh, bersama dengan banyak tukang becak, para penjual asongan dan pemulung lainnya. Gubuk itupun bukan miliknya, karena ia menyewanya secara harian. Perlengkapan di gubuk itu sangat sederhana. Hanya ada sebuah tikar tua yang telah robek-robek dipojok-pojoknya, tempat dimana ia biasa merebahkan tubuh penatnya setelah sepanjang hari mengayuh becak.

Saturday, February 11, 2012

[47] Balada Hari Ini

Jum’at, 10 Februari 2012
“Assalamu’alaikum..”
“Mbak Niiikk....wa’alaikumsalam”, suara girang itu kudengar ketika sang pemilik, Latifa namanya, menghambur ke arahku untuk membukakan pintu yang terkunci.
“Haaii Dek Tifa...gimana, udah sembuh belum?:)
“Udah mbak, hehe..”
“Ikhlaaaasss...mbak Ninik dateng. Buruan makannya.”
Adek kecilku itu terlihat masih nongkrong di depan TV ruang makan, ditemani sepiring nasi yang sudah hampir habis..
“Eh,,gakpapa, makan aja, mbak sholat dulu ya..”, aku langsung menuju kamar tempat biasa kami belajar untuk meletakkan tasku dan ambil air wudhu.
***
Waahh...adekku pengertian banget
Sebelum aku sholat ternyata Dek Ikhlas sudah masuk ke kamar. Ya...terpaksa dia nungguin aku sholat. Baru aja selesai sholat..
“Mbak,,,ayoo, belajar, aku ada PR nih”, pintanya sedikit tidak sabar.
“Iya,,pe er apa? tuh ambil karpetnya dulu gih, sama mejanya sekalian ya”, tanganku masih sibuk melipat mukena dan sajadah.
“PR IPS sama bahasa inggris mbak”
“Okeh...ntar kita kerjain sama2 yak...”
Baru aja aku buka bukunya, dia tiba2 berdiri..

Tuesday, January 10, 2012

[40] Man Jadda Wa Jadda

Pernah gak kawan merasakan sensasi dari sebuah keinginan yang menggebu-gebu? Misalnya semangat menulis yang begitu hebat ketika sehabis mengikuti seminar motivasi jurnalistik, atau misalnya jiwa enterpreneur yang membuncah setelah mengikuti seminar kewirausahaan? atau contoh lain misalnya semangat untuk memanajemen waktu dengan baik setelah mendengar ceramah yang 'membakar'?  Semangat menghafal Al Qur'an yang membuncah setelah membaca kisah seorang anak berumur 5 tahun yang telah khatam 30 Juz, hafal diluar kepala. Mungkin kita pernah merasakan salah satu dari hal tersebut, atau hal lain yang punya sensasi sama seperti itu. Jika iya,, bersyukurlah. Pertanyaannya...apa yang musti kita lakukan ketika mengalami saat itu? Ya...ikuti saja hati kita, puaskan keinginan dan semangat kita. Lakukan saat itu juga untuk memulai semangat baru kita tersebut. Dan yang paling penting, jaga semangat kita agar jangan sampai melemah. Mungkin itu memang cukup sulit, tapi percayalah...man jadda wa jadda, barang siapa bersungguh-sungguh maka ia akan berhasil.Jangan pernah takut untuk bermimpi besar, karena Allah Maha Mendengar:)

Thursday, January 5, 2012

[39] Pangeran Kaya, Bukan Itu Kriteria Utamaku

Sore itu, menunggu kedatangan teman yang akan menjemputku di masjid ini seusai ashar.. seorang akhwat datang, tersenyum dan duduk disampingku, mengucapkan salam, sambil berkenalan dan sampai pula pada pertanyaan itu. “anty sudah menikah?”. “Belum mbak”, jawabku. Kemudian akhwat itu .bertanya lagi “kenapa?” hanya bisa ku jawab dengan senyuman..

Monday, January 2, 2012

[38] Semangat Berbagi, Semangat Memberi_Amazing Teacher

2/1/2012  10:30
Lagi...mataku basah tanpa bisa kutahan. Huft..mungkin kelihatannya cengeng sekali ya.. Sebenernya agak malu, tapi untung aku bisa sedikit menyembunyikannya di balik meja kerjaku. Entah kenapa dada ini terasa sesak ketika melihat sebuah acara TV yang menayangkan perjuangan para “pelayan masyarakat”. Ahh...begitu luar biasanya mereka. Di ujung negeri yang sama sekali berbeda dengan tempatku saat ini.

Tuesday, December 20, 2011

[37] Kekasihku Pergi Saat Berjihad (Kisah Pegawai Pajak)

Sebuah kisah yang semoga bisa menginspirasi kita untuk jadi lebih baik..
 -------------
SAYA TEMUKAN SOSOK IDEAL PEGAWAI PAJAK pada mendiang suami saya. Hanya Allah pemilik kesempurnaan, dan Allah menciptakan sosok yang hampir sempurna bagi saya dan anak-anak. Ismail Najib nama lengkapnya. Ia terlahir dari keluarga yang sederhana di pelosok Jambi. “Ayah,” kami biasa memanggilnya. Ibunya, mertua saya, memanggilnya Mael. Teman kantornya memanggilnya Najib –atau Pak Najib.
Abang pergi mendahului kami. Ia menitipkan tiga buah-hati kami. Dafi Muhammad Faruq, putra, umur enam tahun, kini kelas satu SD. Adiknya, dua putri cantik kami, Kayyisah Zhillan Zhaliila, usia tiga tahun dan Mazaya Hasina Najib, tiga bulan. Ketika Abang mangkat pada 21 Februari 2011, si bungsu masih dalam kandungan empat bulan. Meski telah pergi, Abang mendidik saya menjadi orang kuat dan mandiri. Dengan kondisi long distance, saya memilih homebase di Kota Kembang demi pendidikan anak anak. Dengan bekal ilmu agama yang Almarhum berikan, sekarang saya menjadi tahu apa itu arti syukur, ikhlas, dan tawakal. Itulah yang membuat saya harus bangkit menyikapi keadaan ini.
Pegawai Pajak, pekerjaan yang luar biasa “banyak godaannya”. Abang memberikan pengertian pada saya bahwa materi yang identik melekat dengan pegawai Pajak, jangan menjadi patokan kebahagiaan dan kesenangan. Karena, tidak semua orang Pajak bermateri (saat itu saya tidak mengerti apa maksudnya).
Hingga sekitar 2005, Abang mengutarakan puncak kegundahannya. Setelah bekerja selama satu dekade , kebimbangan itu pun terucap, “Bunda, Ayah takut apa Ayah sudah menafkahi keluarga ini dengan halal?” ia bertanya kepada saya. Banyak pandangan negatif terhadap pegawai Pajak saat itu –bahkan hingga kini. Saya bekerja di satu bank BUMN. Banyak nasabah dan teman seprofesi yang “curhat” tentang tindak-tanduk pegawai Pajak dan betapa ribetnya mengurus pajak –waktu itu, sebelum modern.
Kami melihat kenyataan bahwa saat itu ada pegawai pelaksana yang punya rumah dan mobil mewah. Abang seorang kepala seksi, dan kondisi itu yang membuat Abang sering memberi pengertian pada saya. Sebagai seorang istri pegawai Pajak, saya harus hidup sederhana dengan gaji sebagai PNS. “Jangan pernah terpengaruh dan mempengaruhi suami untuk mendapatkan sesuatu yang tidak halal,” Abang memberi nasihat.
“Apa gaji yang ayah terima ini halal?” kembali ia gusar. “Nafkahilah keluarga ini dengan keringatmu. Bun percaya Ayah akan memberikan yang terbaik untuk kami,” jawab saya.
“Kira kira bagaimana jika Ayah keluar saja? Jadi guru ngaji,” tuturnya membulatkan tekad. Matanya berlinang. Saya pun ikut menangis saat itu.
“Ayah, apa gak mau lingkungan Ayah jadi lebih baik? Kalau Ayah mundur sekarang, gak ada perubahan di Pajak. Ayah harus mengubah kebiasaan itu. Pajak memerlukan orang seperti Ayah untuk bisa berubah. Ayah pasti bisa,” tutur saya menyambung percakapan waktu itu.

Thursday, August 11, 2011

[25] Hikmah Sebuah Kejujuran

Tersebutlah seorang saleh bernama Al-Qadhi Abu Bakar Muhammad bin Abdul Baihaqi. Ia terkenal akan kejujuran dan sifat amanahnya. Saat itu ia merasa sangat lapar. Padahal, ia tidak memiliki uang sepeser pun untuk membeli makanan. Ia pun tidak menemukan sesuatu yang halal untuk dimakan.

Tiba-tiba ia melihat sesuatu yang menarik pandangannya. Sebuah kantong yang terbuat dari sutra tergeletak begitu saja di tengah jalan. Ia pun memungutnya dan membawanya pulang ke rumah. Ketika kantong itu ia buka, isinya adalah kalung permata yang sangat indah. Melihat isi kantong itu ia sangat terkejut karena baru pertama kali melihat perhiasan begitu indahnya. Namun, imannya menyuruh untuk mencari pemiliknya agar bisa dikembalikan kalung tersebut kepadanya. Al-Qadhi keluar dari rumahnya. Ia mendengar seseorang berteriak mencari kantongnya yang hilang. Ternyata orang itu adalah lelaki tua yang menawarkan sejumlah uang bagi yang menemukan kantongnya.

Ia berkata, "Barangsiapa menemukan kantong sutra berisi permata milikku dan mau mengembalikannya kepadaku, aku akan menebusnya dengan lima ratus dinar!"

Wednesday, August 10, 2011

[23] Belajar dari Filosofi Laut Mati

Ok,,,seperti yang pernah aku bilang sebelumnya, aku akan sedikit share hasil obrolanku dengan dosbim. Kali ini tentang petuah beliau buatku.
Sebenernya bahasan ini berawal dari saling argumen antara aku dan dosbim, then ujung2nya bapaknya ngasih petuah ini buatku, filosofi laut mati.
Dosbimku bilang aku orangnya kurang aktif, kurang greget #kuakui,,maybe yes#. 
Waktu ditanya,,"Kamu kalau dirumah ngapain aja, Pacaran?
"Enggak pak". #Nanti aja pacarannya, kalo udah nikah,,hehe.
"Nonton TV?"
"Saya jarang nonton TV pak."
"Maen2?"
"Enggak Pak"
"Trus ngapaen?"
"Ya..searching2, baca2 gitu pak"
bla bla bla...akhirnya nyampe ke Laut Mati.
"kamu tau Laut Mati?"
"Tau Pak."
"Coba yang kamu tau apa?"
"Laut Mati itu kadar garamnya tinggi banget, jadi kalo kita berenang di situ bakalan ngapung pak."
"Kenapa disebut Laut Mati tau gak?"
belum sempet jawab bapaknya udah jwb
"Karena kadar garamnya yg sangat tinggi, di sana tu gak ada kehidupan sama sekali."
Aku hanya mengiyakan sambil manggut. # tapi aku yakin, pastilah ada kehidupan di sana, meski mungkin hanya mikroba jenis tertentu yang bisa hidup.
"Laut mati itu hanya menerima aliran air, tanpa mengalirkan kembali air yang diterimanya, makanya kadar garamnya sangat tinggi."
"Sama seperti kita. Kalo kita hanya menerima dan menerima ilmu saja, baca ini itu, tanpa mau memberi, tanpa mau bertukar pikiran, diskusi, brainstorming, otak kita gak akan berkembang, dan bisa2 mati."
Okeh,,Setuju pak. Memang kita tak boleh hanya menerima saja tanpa mau memberi. Bahkan di Islam, agamaku yang mulia, diajarkan bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Analogi dengan hal tsb. Dan lagi, dalam sebuah hadits disebutkan bahwa orang yang paling baik adalah orang yang mau belajar Al Quran dan mengajarkannya.

Hmm...Cool

Tidur dulu ahh..

Tuesday, July 5, 2011

[21] Yang Baik Menurut Kita Belum Tentu Baik Menurut Allah

"Mbak, kenapa sepertinya Alloh gak adil pada keluargaku?? Kami dapet kesusahan yang berturut-turut, tak kunjung selesai".
Penggalan SMS dari adekku. Adek yang sebenarnya kukenal secara kebetulan. Waktu itu selepas kajian bahasa arab di kampus, seorang temen ikhwan minta tolong agar aku membantu adek tersebut yang kebetulan sedang mencari buku USM kampusku. Karena ada temen kontrakanku yang anggota Kopma, jadilah ku ajak adek tsb (dy sama ayahnya) jalan ke kontrakanku. Selama perjalanan kampus-kontrakan terjadi obrolan hangat seputar STIS, tips dan trik bagaimana menghadapi ujian masuk, dan sedikit perkenalan.
Adek itu namanya........*gak usah disebutin deh ya, belum minta ijin klo namanya mw di publish, hehe. 
Dia dan ortunya berharap banget bisa ketrima di STIS karena kondisi ekonomi yang sedang tidak sehat, jauh berbeda dengan beberapa waktu sebelumnya. Setelah pertemuan itu, interaksi berlanjut di hari2 berikutnya, lewat sms tentunya. Bahkan dia udh berani curhat ke aku, tentang kondisi ekonomi keluarganya, tentang sekolah, tentang gagalnya ia mengikuti ujian SMPTN sehingga membuat mamanya menangis, dan tentang harapan-harapannya. Dia sangat berharap bisa diterima di STIS dan ketemu lagi denganku. Dia bilang seandainya bisa masuk ke STIS dia akan berjilbab. Subhanalloh,,seketika itu aku berdo'a dan mengamini harapannya itu.

Ketika tiba waktu mndekati ujian STIS aku nawarin agar dia bermalam di tempatku biar gak terburu-buru karena memang jarak rumahnya jauh dari kampusku ini. Awalnya ia merasa gak enak karena khawatir merepotkan dsb, dan lagi, ia bareng sama dua orang temennya. Alhamdulillah, pikirku. Semakin bertambah ladang ibadah buatku, insyaAlloh.
Dan ternyata Alloh punya rencana lain yg pasti kuyakin itu yg terbaik. Ia gak lolos ujian tahap pertama. Kekecewaan sepertinya bener2 ia rasakan begitu mendalam, sampai2 dia menganggap kalau Alloh itu gak adil, seperti kata2 di SMSnya. Hmm..aku hanya bisa memberikan sedikit motivai, menasehati dan terus menasehatinya.
Belakangan aku tau kalo dia juga ikut daftar di STKS. Harapannya masih sama seperti ketika ia mendaftar di STIS.
Ya Alloh, hamba mohon padaMu, jika diterimanya ia di STKS bisa menjadi jalan baginya untuk lebih dekat denganMu, kabulkanlah doa kami. Sungguh, hamba tau, itu sangat mudah bagiMu. Engkaulah sebaik-baik pemberi pertolongan.

"Kesulitan-kesulitan itu, sebenarnya, akan menguatkan hati, menghapuskan dosa, menhancurkan rasa ujub, dan menguburkan rasa sombong. Kesulitan2 itu, akan meluruhkan kelalaian, menyalakan lentera dzikir, menarik empati sesama, menjadi doa yang dipanjatkan oleh orang-orang yg shalih, merupakan wujud ketundukan kepada tiran, merupakan sebuah penyerahan diri kepada Dzat Yang Esa, merupakan sebuah peringatan dini, sebuah upaya untuk menhidupkan dzikir, merupakan upaya untuk menjaga hati dengan bersabar, merupakan persiapan untuk menghadap Sang Tuan, dan sebuah sentilan untuk tidak cenderung pada dunia, merasa aman dan tenang dengannya. Kaena kelembutan yang tersembunyi itu jauh lebih besar, dosa yang ditutupi jauh lebih besar, dan kesalahan yang dimaafkan juga jauh lebih besar."(DR.Aidh Al Qarni_Laa Tahzan)

_Jangan pernah menganggap bahwa Alloh itu tidak adil. Karena sesuatu yang kita anggap baik belum tentu baik di mata Alloh, dan sesuatu yang kita anggap buruk belum tentu buruk di mata Alloh. SMANGAT KAWAND!!:)_

Thursday, June 30, 2011

[18] Kisah Penjual Gorengan yang Berhaji karena Bersedekah

Ini adalah kisah seorang penjual gorengan. Di daerah Cipete Jakarta Selatan, di sebuah sekolah dasar disana, seorang pria penjual gorengan bernama Udin (bukan nama asli) berjualan. Lonceng turun main, kira-kira akan berbunyi sepuluh menit lagi. Ia tengah memotong beberapa singkong untuk digoreng. Singkong seperti kita tahu, berbentuk tabung dan berkerucut pada ujungnya. Biasanya sebuah singkong akan dipotong lima bagian. Empat bagian digoreng untuk dijual, sementara bagian ujung atau pentilnya disisihkan untuk dibuang. Hari itu, Udin menggoreng kira-kira lima buah singkong, dan pentil singkong yang tersisa pun berjumlah lima.
Lonceng istirahat berbunyi,para siswa pun berhamburan ke luar kelas untuk jajan dan istirahat. Seorang anak kurus sambil mengigit jari berdiri di ujung gerobak Udin. Anakini tidak mmbeli gorengan seperti siswa lainnya, juga tidak berbicara sepatahpun. Naluri Udin berkata bahwa anak ini tidak punya uang untuk jajan. Hati kecil menyuruhnya agar lima pentil singkong yang ada diberikan saja kepada anak itu. Maka diambillah beberapa pentil itu. Ia masukkan ke dalam adonan tepung, kemudian digorenglah. Setelah matang, Udin menaruhnya di atas kertas lalu disodorkannya kepada anak itu. Si anak senang bukan main. Senyumnya mengembang. Udin turut bahagia melihatnya.Belakangan, Udin tahu bahwa anak tersebut adalah seorang yatim yang baru saja kehilangan Bapak.
Kejadian pagi itu terus berulang. Udin memberikan beberapa pentil singkongnya kepada anak yatim itu. Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun hingga anakitu lulus dari Sekolah Dasar. Udin tidak merasa berat, sebab apa yang ia berikan kepada anak yatim itu tiada lain adalah barang yang tiada berharga bagi siapapun. Dalam pengalamannya berjualan, tidak ada seorang pun yang mencari pentil singkong untuk dibeli. Bahkan bila dijual sekalipun dalam jumlah banyak, pastilah tidak akan laku. Udin tidak keberatan memberikan pentil singkongnya kepada anak itu.Bahkan untuk setiap hari.
Lebih dari 30 tahun berselang setelah anak yatim itu lulus. Saat itu, Udin masih mengerjakan rutinitasnya setiap hari yaitu berjualan gorengan di sekolah dasar yang sama. Maka berhentilah sebuah mobil mewah nan mengkilap tepat di depan gerobak Udin. Seorang pemuda tampan turun darimobil.Ia mengenakan setelan dan dasi yang bermerk. Rambutnya di sisir rapi dan mengkilat ditimpa sinar matahari.
Melihat calon pembeli denga mobil bagus, Udin sigap membuka pembicaraan, “Mau beli gorengan Den?!” Pemuda itu tersenyum dan berkata, “Masa Bapak lupa sama saya?” Pertanyaan itu membuat Udin berpikir singkat, namun ia tidak menemukan jawabannya. Udin lalu bertanya polos, “Memangnya Aden ini siapa ya?” Masih tersenyum, pemuda itu mengatakan, “Saya ini adalah anak pentil singkong, Kang!” Mendengar itu, Udin berucaptasbih. Rasa gembira terbit dihatinya melihat kesuksesan anak ini. Anak pentil singkong yang dulu kerap berdiri di pinggir gerobaknya. “Masya Allah…. sudah sukses sekarang ya Den?” Udin bertanya sekali lagi. “Alhamdulillah Pak!” jawab si pemuda itu.
Udin lalu menggamit lengan si pemuda, diajaknya masuk ke balik gerobaknya. Udin menyorongkan sebuah kursi kecil untuk duduk. Maka duduklah pemuda itu, sementara Udin meneruskan pekerjaannya menggoreng singkong, tempe dan lain-lain. Sambil Udin bekerja, pembicaraan mengenai kenangan lama terulang kembali. Keduanya merajut rasa syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan anugerah tiada terkira. Pembicaraan tersebut terus berlanjut hingga berujung pada sebuah kalimat yang diucapkan sang pemuda.
“Bapak… saya ke sini mau berterimah kasih!” kata si pemuda. “Atas apa, Den?!” jawab Udin. “Berterima kasih atas kebaikan Bapak kepada saya. Dulu kalau tidak dikasih pentil singkong sama Bapak, saya gak bakal bisa belajar dengan tenang. Kalau belajar gak tenang, saya gak bakal pintar. Kalau gak pintar, saya gak bakal bisa lulus sekolah dan sukses seperti sekarang… saya ke sini mau berterima kasih ke Bapak!” kalimat yang baru diucapkan oleh pemuda itu begitu tersusun dan membanggakan hati Udin. Namun Udin masih berkelit sambil berujar, “Den…sudah gak usah dipikirkan. Apa yang saya kasih ke Aden berupa pentil singkong itu kan gak berharga! Ngapain pakai terima kasih segala. Lagian, kalo saya jual gak bakal ada yang mau…!” Udin mencoba merendah dan menolak pamrih.
Pemuda masih mengejar dengan satu pertanyaan lagi, dan ini membuat Udin menjadi bergidik.”Bapak…, saya dan istri berniat haji tahun ini. Saya ingin Pak Udin dan istri mau menemani kami. Mau kan Pak?” Gemuruh rasa terjadi di dada Udin. Tidak pernah terbayangkan baginya akan ada seorang hamba Allah yang mengajaknya untuk menunaikan rukun Islam kelima. Udin pun mengiyakan, dan pemuda itu pun pergi meninggalkan Udin.
Udin dan istrinya berangkat haji. Seluruh biaya dan uang jajan keduanya ditanggung oleh si pemuda. Barangkali kalau dihitung lebih dari 60 juta yang dibayarkan olehnya. Udin dan istri lalu berangkat ke Baitullah, menunaikan semua ritual dan berkewajiban dalamibadah haji. Hingga ia dan istri kembali ke tanah air lagi dengan selamat. Sesampainya di tanah air, banyak kerabat, saudara dan tetangga datang bersilaturrahmi. Udin membagikan oleh-oleh berupaair zamzam, kurma dan banyak lagi. Banyak orang senang menerima oleh-oleh tersebut. Merekapun banyak menanyakan pengalaman Udin dan istri selama berhaji.
Udin menjawab semua pertanyaan orang yang datang sebisanya. Hingga saat ada seseorang yang bertanya tentang bagaimana caranya Udin dapat berhaji bersama istri padahal usahanya hanya sekedar menjual gorengan. Rupanya…banyak yang belum tahu dengan cara apa Udin berangkat haji. Dan memang, ia merahasikan hal itu selama ini. Udin pun menjawab seadanya, “Dulu…, saya sedekah pentil singkong kepada seorang anakyatim, eh gak tahunya dengan sedekah itu saya dan istri berangkat haji. Kalo tahu begini, coba dulu saya sedekah singkong beneran sama tuh anak….!” Udin mencoba berkelakar dengan jawabannya, dan hal itu membuat hadirin tertawa terbahak mendengarnya. Dalam hati, Udin bersyukur kepada Allah SWT yang sungguh menepati janji kepada dirinya. SUngguh Allah SWT Maha Kuasa untuk membalas amal seseorang hamba, bahkan hingga 700 kali lipat atau bahkan lebih dari itu.

Taken from http://zasmiarel.wordpress.com/2009/10/15/kisah-penjual-gorengan-yang-berhaji-karena-bersedekah/

Sunday, May 15, 2011

[5] Ada Saat Yang Harus Dikalahkan!

Buka dompet...gak sengaja perhatianku sejenak tertuju pada satu diantara beberapa foto yang nyelip dibalik lapisan bening plastik dompetku. Hmm...foto seseorang yang begitu berarti buatku. Pikiranku pun lantas menerawang, mencoba memutar kembali rangkaian episode yang terekam dalam memori. Indah..penuh makna..sarat dengan semangat...kaya akan karya..optimis. Mungkin begitulah yang bisa aku gambarkan tentang dia, tentang episode2ku bersamanya.

Ada sebuah kalimat singkat yang ku dapat darinya. "Ada saat yang harus dikalahkan". Singkat namun penuh makna. Bahkan sampai sekarang pun aku masih terus mencari dan terus menggali arti dibalik kata2 itu. Dan dalam tiap kesempatan yang lalu, kata2 itu menjadi penguat buatku. 
Saat rasa takut untuk memulai hal2 baru datang, kalahkan rasa takut itu, jadilah orang yang kaya akan pengalaman.
Saat  muncul pikiran negatif tentang orang lain, kalahkan pikiran negatif itu, jadilah orang yang selalu berbaik sangka kepada sesama.
Saat terbersit ingin melakukan suatu hal negatif/kemungkaran, kalahkan keinginan itu, jadilah orang  selalu berada dalam petunjukNya.
Saat kehilangan rasa percaya diri, kalahkan saat itu, jadilah orang yang selalu optimis dan yakin akan kemampuan diri.
Saat kita merasa sendiri,kalahkan perasaan itu, yakinlah bahwa sesungguhnya ada banyak orang yang akan menguatkan kita.
Saat rasa malas menggoda kita untuk diam, kalahkan rasa malas itu, move more and do something!
Saat hati dan dirimu berkata " aku tidak akan bisa melakukan ini", kalahkan perasaan itu dan katakan " Aku pasti bisa melakukan ini!".
Saat muncul perasaan "kemungkinan terburuk saya tidak akan diwisuda tahun ini", kalahkan perasaan itu, buang jauh2, yakinkan  " saya mengijinkan diri saya untuk diwisuda tahun ini".

[4] Kenapa Harus men-Deadline Diri?

Tmen2, agan2,  pasti pernah mengalami kondisi dimana ketika mngerjakan sesuatu, entah tugas sekolah, kuliah, kerjaan, atau tugas organisasi bawaannya buru-buru,kayak dikejar setan. Alhasil, qt gak bisa dapet output yang maksimal. Seringnya sih qt masih membela diri dengan mengatakan "akhirnya selesai juga tugas ini, gak pa pa lah mau dapet nilai berapa juga, gimana hasilnya nanti terserah yang penting udah kelar". Mungkin ada sebagian orang yang merasa bahwa idenya baru bisa muncul ketika udah mepet deadline..kata orang sih the power of kepepet #haha...kayaknya aku termasuk dalam kumpulan orang2 ini deh#. 

Mungkin mulai dari sekarang perlu ditinjau lagi, ngerasa enak kah kita kalo harus dikejar2 deadline kyk gitu? Apakah yang kita lakukan itu (ngerjain tgs mepet2 DL) memang karena saking banyaknya tugas, atau karena kitanya yang males/ suka nunda2?
OK,,,aku punya sebuah kisah yang kuambil dari buku "Deadline Your Life" nya pak Sholihin. 

Umar bin Abdul Aziz adalah khalifah penerus dinasti yg dibangun oleh shahabi Mu’awiyah bin Abu Sofyan.  Sebelum menjadi khalifah, Umar bin Abdul Aziz pernah menjabat Gubernur Madinah. Beliau mempunyai beberapa orang anak, diantaranya Abdul Malik Ibnu Umar. Dia masih muda, tetapi ketaqwaan dan kezuhudannya senantiasa menghiasi lembaran hidupnya.
Suatu saat ketika Umar sampai di rumah sepulang mengurusi pemakaman jenazah Sulaiman Ibnu Abdul Malik, datanglah Abdul Malik menghampirinya. Ia bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, gerangan apakah yang mendorong anda membaringkan diri di siang bolong ini?”. Umar bin Abdul Aziz tersentak kaget tatkala sang putra memanggilnya dengan sebutan Amirul Mukminin, bukan dengan panggilan ayah sebagaimana biasanya. Ini mengisyaratkan bahwa puteranya ingin mempertanyakan tanggung jawab ayahnya sebagai pemimpin negara, bukan sebagai kepala keluarga.
“Aku letih dan butuh istirahat!”, jawab sang ayah.
“Pantaskah anda beristirahat padahal banyak rakyat yang tertindas?”, kata sang anak dengan bijak.
“Wahai anakku, semalaman suntuk aku menjaga pamanmu. Nanti setelah shalat dzuhur aku akan mengembalikan hak-hak orang yang teraniaya”.
“Wahai Amirul Mukminin”, Abdul Malik berkata, ” Siapakah yang menjamin Anda hidup sampai dzuhur, jika Allah menaqdirkanmu mati sekarang?
mendengar ucapan anaknya, Umar semakin terperangah. Beliau memerintahkan anaknya mendekat, maka diciumlah anak itu sembari berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah mengaruniakan kepadaku anak yang telah membuatku menegakkan agama”.
Selanjutnya beliau perintahkan juru bicaranya untuk mengumumkan kepada seluruh rakyat, “Barangsiapa yang merasa terzhalimi, hendaknya mengadukan nasibnya kepada khalifah!”.

Yup, begitulah. Jadi, men-deadline diri  itu penting..kenapa?
  • Deadline diri akan memberi arti lebih, sebab ini akan menyadarkan hakikat iman, yang diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan dan dibuktikan dengan amal perbuatan, sehingga tidak ada keraguan dalam melangkah, yakin akan pertolongan Allah.
  • Deadline diri akan mengendalikan hati yang punya karakter fluktuatif, gampang berbolak-balik, mudah ragu.
  • Deadline diri berarti segera membuktikan iman agar tetap bertahan dalam berbagi keadaan, merasa diawasi Allah, dan selalu tergugah dalam nuansa ibadah.
  • Deadline diri adalah tradisi sahabat Nabi, saling mengajak introspeksi, menyadari iman yang kadang naik kadang turun.
    So….DEADLINE YOUR LIFE! Hamasaaah^^